Perlintasan sebidang merupakan titik pertemuan antara jalan raya dengan jalur kereta api pada bidang yang sama. Kondisi ini membuat kendaraan bermotor dan kereta api menggunakan ruang yang saling berpotongan sehingga membutuhkan pengaturan keselamatan dan lalu lintas yang baik.
Keberadaan perlintasan sebidang menjadi perhatian penting karena kereta api memiliki karakteristik berbeda dengan kendaraan di jalan. Kereta membutuhkan jarak pengereman yang panjang dan tidak dapat melakukan manuver untuk menghindari kendaraan yang berada di jalurnya.
Dalam konteks Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin), keberadaan perlintasan kereta api juga perlu diperhatikan, terutama ketika terdapat pembangunan kawasan atau kegiatan baru yang berpotensi meningkatkan volume kendaraan di sekitar lokasi.
Kementerian Pekerjaan Umum mencatat bahwa sepanjang 2018–2023 terdapat 1.860 kejadian kecelakaan di perlintasan sebidang, dengan 1.605 kejadian terjadi di perlintasan yang tidak dijaga. Data tersebut menunjukkan bahwa pertemuan antara arus lalu lintas jalan dan perjalanan kereta api merupakan aspek keselamatan yang tidak dapat diabaikan.
Apa Itu Perlintasan Sebidang?
Perlintasan sebidang adalah lokasi ketika jalur kereta api berpotongan dengan jalan pada satu bidang yang sama.
Berbeda dengan flyover atau underpass yang memisahkan jalur kendaraan dan kereta secara vertikal, pada perlintasan sebidang kendaraan harus melewati jalur rel secara langsung.
Perlintasan tersebut dapat dilengkapi berbagai fasilitas keselamatan, seperti:
- palang pintu;
- rambu lalu lintas;
- marka jalan;
- lampu peringatan;
- sistem persinyalan;
- petugas penjaga perlintasan; dan
- fasilitas pendukung keselamatan lainnya.
Kementerian Perhubungan sendiri memiliki PM 94 Tahun 2018 tentang Peningkatan Keselamatan Perlintasan Sebidang Antara Jalur Kereta Api dengan Jalan, yang saat ini tercatat berstatus berlaku di JDIH Kementerian Perhubungan.
Mengapa Perlintasan Kereta Api Rawan Kecelakaan?
Risiko kecelakaan di perlintasan sebidang tidak hanya disebabkan oleh perilaku pengguna jalan. Kondisi geometrik, volume kendaraan, antrean, frekuensi perjalanan kereta, visibilitas, hingga sistem pengamanan perlintasan dapat memengaruhi tingkat keselamatan.
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Perbedaan karakteristik kendaraan dan kereta api
Kendaraan bermotor dapat berhenti atau mengubah arah dalam waktu relatif cepat. Sebaliknya, kereta api memiliki massa yang sangat besar dan berjalan pada jalur yang telah ditentukan.
Ketika kendaraan berhenti di atas rel atau masuk ke area perlintasan ketika kereta mendekat, ruang untuk melakukan evakuasi sangat terbatas.
2. Antrean kendaraan saat palang pintu tertutup
Ketika kereta melintas, kendaraan dari kedua arah harus berhenti. Jika volume kendaraan tinggi dan ruang penampungan kendaraan terbatas, antrean dapat memanjang hingga ke simpang atau akses kawasan di sekitar perlintasan.
Kondisi ini dapat menimbulkan masalah baru apabila antrean kendaraan sampai mengganggu arus lalu lintas pada ruas jalan lain.
3. Jarak perlintasan dengan simpang
Salah satu kondisi yang perlu mendapatkan perhatian adalah jarak antara perlintasan kereta api dengan persimpangan jalan.
Bayangkan sebuah kendaraan berhenti karena lampu merah, sementara beberapa meter di depannya terdapat perlintasan kereta api. Ketika palang ditutup, antrean kendaraan dapat bertemu dengan antrean simpang.
Akibatnya, kapasitas simpang dapat berkurang dan potensi konflik lalu lintas meningkat.
4. Tingginya volume kendaraan
Semakin tinggi volume kendaraan yang melewati suatu perlintasan, semakin besar pula potensi terbentuknya antrean ketika perjalanan kereta melintas.
Karena itu, perubahan volume lalu lintas akibat pembangunan kawasan baru perlu diperhitungkan ketika lokasi kegiatan berada di sekitar jaringan jalan dan perlintasan kereta api.
5. Visibilitas yang terbatas
Bangunan, pepohonan, papan reklame, kendaraan yang terparkir, maupun kondisi geometrik jalan dapat mengurangi jarak pandang pengguna jalan terhadap jalur kereta.
Visibilitas yang buruk dapat membuat pengemudi terlambat menyadari keberadaan kereta yang akan melintas.
Apa Hubungan Perlintasan Sebidang dengan Andalalin?
Ini bagian yang paling penting.
Andalalin tidak hanya membahas berapa banyak kendaraan yang muncul akibat suatu pembangunan. Analisis juga perlu melihat bagaimana bangkitan dan tarikan perjalanan tersebut berinteraksi dengan jaringan jalan serta kondisi lalu lintas di sekitarnya.
Peraturan Menteri Perhubungan PM 17 Tahun 2021 mengatur penyelenggaraan Analisis Dampak Lalu Lintas.
Apabila suatu pembangunan berada dekat dengan perlintasan kereta api, maka keberadaan perlintasan tersebut dapat menjadi salah satu kondisi eksisting yang perlu diperhatikan dalam analisis lalu lintas.
Contohnya adalah pembangunan:
- perumahan;
- kawasan komersial;
- pusat perbelanjaan;
- pergudangan;
- kawasan industri;
- fasilitas pendidikan;
- rumah sakit;
- terminal;
- kawasan pariwisata; atau
- pembangunan lain yang menghasilkan perjalanan dalam jumlah signifikan.
Tambahan perjalanan dari kawasan tersebut dapat meningkatkan volume kendaraan pada ruas jalan yang menuju perlintasan.
Bagaimana Andalalin Menganalisis Dampak di Sekitar Perlintasan Kereta?
Dalam penyusunan Andalalin, kondisi perlintasan dapat menjadi bagian dari analisis jaringan lalu lintas di sekitar lokasi pembangunan.
Beberapa aspek yang dapat diperhatikan antara lain:
Volume lalu lintas
Data volume kendaraan digunakan untuk mengetahui kondisi lalu lintas eksisting dan memperkirakan perubahan setelah kawasan beroperasi.
Jenis kendaraan juga dapat diklasifikasikan, misalnya kendaraan ringan, kendaraan berat, sepeda motor, dan kendaraan lainnya sesuai kebutuhan survei.
Panjang antrean
Antrean menjadi salah satu aspek penting karena penutupan perlintasan menyebabkan kendaraan harus berhenti sementara.
Analisis dapat melihat apakah antrean masih dapat ditampung oleh ruas jalan atau justru berpotensi menjalar ke simpang terdekat.
Waktu tundaan
Ketika kendaraan harus berhenti akibat kereta melintas, pengguna jalan mengalami tambahan waktu perjalanan.
Jika frekuensi kereta tinggi dan volume kendaraan juga besar, akumulasi tundaan dapat menjadi signifikan terhadap kinerja jaringan jalan.
Kapasitas dan tingkat pelayanan jalan
Tambahan bangkitan kendaraan dari suatu kawasan dapat meningkatkan beban lalu lintas.
Analisis kemudian dapat digunakan untuk mengetahui perubahan kapasitas, derajat kejenuhan, kecepatan, tundaan, serta tingkat pelayanan pada ruas atau simpang yang terdampak.
Kondisi geometrik
Kondisi geometrik jalan menuju perlintasan juga penting untuk diperhatikan.
Misalnya:
- lebar jalan;
- jumlah lajur;
- kemiringan;
- radius tikungan;
- jarak pandang;
- posisi simpang;
- akses keluar-masuk kawasan; dan
- ruang untuk menampung antrean kendaraan.
Bagaimana Jika Ada Pembangunan Baru di Dekat Perlintasan Kereta?
Misalnya terdapat pembangunan perumahan baru yang memiliki 500 unit rumah dan akses utamanya berada tidak jauh dari perlintasan kereta api.
Setelah kawasan beroperasi, akan muncul perjalanan baru dari penghuni, tamu, kendaraan logistik, layanan transportasi online, dan aktivitas lainnya.
Jika seluruh kendaraan tersebut menggunakan jalan yang sama menuju perlintasan, maka volume lalu lintas pada area tersebut akan meningkat.
Masalahnya bukan hanya mengenai berapa kendaraan tambahan yang muncul, tetapi juga bagaimana kendaraan tersebut berinteraksi dengan kondisi jaringan jalan yang sudah ada.
Misalnya:
Perumahan → Jalan utama → Perlintasan kereta → Simpang
Jika pada jam sibuk kereta melintas dan palang pintu tertutup, antrean kendaraan dapat terbentuk.
Apabila antrean tersebut tidak memiliki ruang yang cukup, kendaraan bisa menghambat akses keluar-masuk perumahan atau bahkan memengaruhi simpang di dekatnya.
Inilah salah satu alasan mengapa kondisi jaringan jalan di sekitar lokasi pembangunan perlu dianalisis secara menyeluruh.
Apakah Perlintasan Sebidang Harus Selalu Ditutup?
Tidak sesederhana itu.
Penanganan perlintasan perlu mempertimbangkan kondisi lokasi, fungsi jalan, volume kendaraan, frekuensi perjalanan kereta, keselamatan, kondisi geometrik, serta aspek teknis dan kewenangan masing-masing pihak.
Secara kebijakan, pemerintah mendorong peningkatan keselamatan perlintasan sebidang. Kementerian Pekerjaan Umum juga menjelaskan bahwa pertemuan antara jalur kereta api dan jalan pada prinsipnya diarahkan untuk ditangani secara lebih aman, termasuk melalui solusi tidak sebidang apabila kondisi memungkinkan. Jika kondisi tidak memungkinkan, diperlukan perlengkapan keselamatan yang memadai.
Karena itu, solusi yang diterapkan dapat berbeda pada setiap lokasi.
Beberapa bentuk penanganan dapat berupa:
- peningkatan fasilitas keselamatan;
- pengaturan lalu lintas;
- peningkatan rambu dan marka;
- pengendalian akses;
- pengaturan antrean;
- peningkatan visibilitas;
- rekayasa geometrik;
- pembangunan jalan layang;
- pembangunan underpass; atau
- penanganan lain sesuai hasil kajian dan kewenangan instansi terkait.
Mengapa Developer Perlu Memperhatikan Perlintasan Kereta Saat Merencanakan Pembangunan?
Developer atau pemilik kegiatan sebaiknya tidak hanya melihat ketersediaan lahan dan akses kendaraan.
Kondisi jaringan jalan di sekitar lokasi juga harus diperhatikan.
Lokasi yang terlihat mudah diakses belum tentu memiliki kapasitas jaringan yang cukup ketika kegiatan mulai beroperasi.
Hal ini semakin penting apabila lokasi berada:
- dekat perlintasan kereta api;
- dekat persimpangan;
- dekat terminal;
- dekat kawasan industri;
- dekat pusat perdagangan;
- dekat sekolah atau rumah sakit; atau
- pada ruas jalan dengan volume lalu lintas tinggi.
Melalui Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin), dampak bangkitan dan tarikan perjalanan dari suatu pembangunan dapat dianalisis sebelum kegiatan beroperasi.
Dengan begitu, potensi permasalahan lalu lintas dapat diidentifikasi dan rekomendasi penanganannya dapat direncanakan sejak awal.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Proyek Berada Dekat Rel Kereta?
Jika sebuah proyek berada di sekitar perlintasan kereta api, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Identifikasi jaringan jalan di sekitar lokasi
- Identifikasi posisi dan karakteristik perlintasan
- Melakukan survei volume lalu lintas
- Mengamati pola antrean ketika kereta melintas
- Mengidentifikasi simpang terdekat
- Mengukur kondisi geometrik jalan
- Menganalisis bangkitan dan tarikan perjalanan proyek
- Memperkirakan kondisi lalu lintas setelah proyek beroperasi
- Menganalisis potensi konflik dan gangguan lalu lintas
- Menyusun rekomendasi penanganan
Hasil analisis tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan rekayasa lalu lintas dan langkah mitigasi yang sesuai.
Perlintasan Sebidang Bukan Hanya Masalah Kereta, tetapi Juga Masalah Lalu Lintas
Perlintasan sebidang sering kali dilihat hanya sebagai tempat kendaraan harus berhenti ketika kereta lewat.
Padahal, dari perspektif transportasi, lokasi tersebut merupakan titik pertemuan dua sistem transportasi dengan karakteristik berbeda.
Ketika volume kendaraan meningkat, frekuensi kereta tinggi, jarak dengan simpang terlalu dekat, atau ruang antrean terbatas, permasalahan yang muncul dapat meluas menjadi gangguan terhadap jaringan jalan.
Karena itu, ketika sebuah pembangunan direncanakan di sekitar perlintasan kereta api, aspek tersebut perlu diperhitungkan dalam analisis lalu lintas.
Andalalin dapat membantu melihat dampak pembangunan terhadap kondisi lalu lintas secara lebih menyeluruh, termasuk bagaimana tambahan perjalanan dari suatu kegiatan berinteraksi dengan jaringan jalan dan kondisi eksisting di sekitarnya.
Butuh Bantuan Andalalin?
Perencanaan pembangunan sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas sejak awal, terutama apabila lokasi proyek berada dekat perlintasan kereta api, persimpangan, jalan utama, atau kawasan dengan volume kendaraan tinggi.
Katalia menyediakan layanan Andalalin dan konsultasi transportasi untuk membantu menganalisis dampak lalu lintas dari berbagai jenis pembangunan serta menyusun rekomendasi penanganan yang sesuai dengan kebutuhan proyek.



