Dari Delman hingga Kereta Cepat: Perjalanan Angkutan Umum Indonesia Menembus Zaman
Angkutan umum Indonesia terus berubah mengikuti pertumbuhan kota, perkembangan teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Dari suara tapal kuda delman hingga deru kereta cepat, perubahan tersebut bukan sekadar pergantian kendaraan, melainkan transformasi cara manusia bergerak dan kota dibangun.
Katalia.id — Bayangkan sebuah jalan kota pada penghujung abad ke-19. Belum ada aplikasi perjalanan, kartu pembayaran elektronik, ataupun kereta yang melaju di atas jalur layang. Masyarakat bepergian dengan berjalan kaki, menumpang delman, pedati, perahu, atau kendaraan sederhana yang digerakkan tenaga manusia dan hewan.
Lebih dari satu abad kemudian, pemandangan itu berubah drastis. Bus berpintu otomatis melintas di jalur khusus, kereta perkotaan datang berdasarkan jadwal digital, sementara perjalanan antarkota dapat ditempuh dengan kereta berkecepatan tinggi.
Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bahwa sejarah angkutan umum pada dasarnya merupakan sejarah perubahan hubungan antara manusia, teknologi, dan ruang kota.
Ringkasan Perjalanan Angkutan Umum Indonesia
| Periode | Angkutan yang menonjol | Karakter pelayanan |
|---|---|---|
| Sebelum abad ke-19 | Pedati, delman, dokar, becak, dan perahu | Kapasitas kecil, jangkauan lokal, tidak terjadwal |
| Akhir abad ke-19–awal abad ke-20 | Kereta api dan trem | Mulai menggunakan rel, berkapasitas lebih besar dan memiliki rute tetap |
| 1945–1970-an | Bus kota, opelet, bemo, becak, dan kereta | Menopang mobilitas kota setelah kemerdekaan |
| 1980–1990-an | Bus kota, minibus, mikrolet, dan angkot | Fleksibel dan menjangkau permukiman, tetapi belum terintegrasi |
| 2000-an | BRT dan revitalisasi kereta komuter | Mulai memakai jalur khusus, halte, tiket elektronik, dan standar pelayanan |
| 2010-an–sekarang | MRT, LRT, KRL, BRT, transportasi daring, dan kereta cepat | Berbasis teknologi, terjadwal, terintegrasi, dan berorientasi keselamatan |
| Masa depan | Bus listrik, kereta listrik, layanan berbasis data, dan kendaraan otonom | Rendah emisi, inklusif, terhubung, dan berkelanjutan |
Era Delman: Ketika Perjalanan Mengikuti Tenaga Hewan
Delman, dokar, pedati, dan berbagai kereta kuda pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Kendaraan tersebut digunakan untuk membawa penumpang maupun barang dari pasar menuju permukiman, pelabuhan, atau pusat pemerintahan.
Pelayanannya sangat sederhana. Tidak ada jadwal tetap, halte resmi, standar tarif, maupun sistem keselamatan seperti yang dikenal sekarang. Kapasitas angkutnya juga terbatas dan kecepatan perjalanan dipengaruhi kondisi jalan, cuaca, serta kemampuan hewan penarik.
Namun, moda tradisional tersebut memiliki nilai penting. Delman merupakan salah satu bentuk awal angkutan umum karena memungkinkan masyarakat menggunakan kendaraan tanpa harus memilikinya sendiri.
Sampai sekarang, delman dan dokar masih dapat ditemukan di sejumlah daerah. Fungsinya memang mulai bergeser menjadi angkutan wisata atau bagian dari warisan budaya, tetapi keberadaannya mengingatkan bahwa sejarah mobilitas Indonesia berawal dari pelayanan berskala manusia.
Rel Mengubah Jarak dan Waktu
Perubahan besar terjadi ketika teknologi kereta api diperkenalkan di Hindia Belanda. Jalur Semarang–Tanggung mulai beroperasi pada 10 Agustus 1867 dan menjadi salah satu tonggak awal perjalanan perkeretaapian di Indonesia. Kehadiran rel memungkinkan manusia dan barang diangkut dalam jumlah lebih besar dengan waktu tempuh yang lebih terukur. Sejarah pembukaan jalur tersebut juga dibahas dalam kajian sejarah transportasi kereta api Universitas Negeri Yogyakarta.
Kereta api pada masa kolonial pada awalnya banyak dikembangkan untuk mendukung kegiatan ekonomi, perkebunan, pelabuhan, dan administrasi pemerintahan kolonial. Karena itu, pembangunannya tidak dapat dilepaskan dari kepentingan penguasaan wilayah dan pengangkutan komoditas.
Di kawasan Batavia, masyarakat juga mengenal perkembangan trem: dari trem bertenaga kuda, trem uap, hingga trem listrik. Kajian mengenai perubahan sistem trem Batavia antara 1869 dan 1930 dapat ditemukan dalam jurnal sejarah Universitas Negeri Yogyakarta.
Untuk pertama kalinya, perjalanan di dalam kota memiliki lintasan yang relatif tetap, titik pemberhentian, dan kapasitas angkut yang lebih besar. Trem sekaligus menunjukkan gagasan penting yang masih digunakan hingga sekarang: banyak orang dapat dipindahkan secara efisien apabila kendaraan memperoleh ruang operasi yang jelas.
Setelah Kemerdekaan: Bus, Opelet, Bemo, dan Angkot
Setelah Indonesia merdeka, pertumbuhan penduduk dan perluasan kawasan perkotaan meningkatkan kebutuhan perjalanan. Bus kota kemudian berkembang menjadi tulang punggung mobilitas, sementara opelet, bemo, mikrolet, dan angkot menjangkau jalan-jalan yang tidak dilayani kendaraan besar.
Moda berukuran kecil memiliki keunggulan berupa fleksibilitas. Kendaraan dapat masuk ke kawasan permukiman, berhenti lebih dekat dengan tujuan penumpang, dan beroperasi dengan biaya infrastruktur yang relatif rendah.
Di sisi lain, sistem berbasis setoran dan persaingan mendapatkan penumpang menimbulkan persoalan. Pengemudi dapat berhenti terlalu lama untuk menunggu penumpang, menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat, atau saling mendahului di jalan.
Masalah itu bukan semata-mata kesalahan pengemudi. Perilaku operasional sangat dipengaruhi sistem usaha, kontrak pelayanan, penetapan tarif, dan mekanisme pembayaran kepada operator. Apabila pendapatan bergantung pada jumlah penumpang yang dikumpulkan setiap kendaraan, persaingan di jalan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Karena itu, modernisasi angkot seharusnya tidak hanya berarti mengganti kendaraan lama. Pembenahan juga harus mencakup kontrak berbasis kinerja, standar jadwal, pembayaran pengemudi, integrasi rute, serta kepastian subsidi pelayanan.
Motorisasi dan Kemunduran Angkutan Umum
Pertumbuhan kendaraan pribadi pada penghujung abad ke-20 membawa tantangan baru. Sepeda motor dan mobil menawarkan perjalanan langsung dari pintu ke pintu, sedangkan banyak layanan angkutan umum masih lambat, tidak pasti, dan membutuhkan beberapa kali perpindahan.
Ketika masyarakat beralih ke kendaraan pribadi, jumlah penumpang angkutan umum menurun. Pendapatan operator ikut berkurang sehingga peremajaan kendaraan dan peningkatan pelayanan semakin sulit dilakukan. Siklus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Layanan kurang andal → penumpang beralih ke kendaraan pribadi → pendapatan angkutan umum menurun → kualitas pelayanan semakin tertinggal.
Pertambahan kendaraan pribadi juga tidak selalu diikuti pertambahan kapasitas jalan. Akibatnya, kemacetan, polusi udara, konsumsi energi, kecelakaan, dan kebutuhan ruang parkir meningkat.
Pada tahap inilah transportasi umum mulai dipandang bukan hanya sebagai bisnis kendaraan, melainkan sebagai pelayanan publik yang membutuhkan perencanaan, pengawasan, pembiayaan, dan integrasi pemerintah.
Era BRT: Bus Mulai Dikelola sebagai Sebuah Sistem
Kehadiran TransJakarta menandai perubahan penting dalam pengelolaan angkutan umum perkotaan. Sistem tersebut diluncurkan pada Januari 2004 dan, menurut sejarah resmi TransJakarta, mulai beroperasi secara resmi pada 1 Februari 2004.
Perubahan yang dibawa bukan sekadar penggunaan bus baru. Konsep Bus Rapid Transit atau BRT memperkenalkan beberapa unsur pelayanan yang lebih sistematis:
- koridor dan rute yang direncanakan;
- halte sebagai tempat naik dan turun penumpang;
- jalur khusus pada koridor utama;
- pengendalian operasi dari pusat;
- sistem pembayaran elektronik;
- informasi perjalanan;
- serta standar pelayanan dan keselamatan.
Model tersebut kemudian menginspirasi pengembangan layanan bus perkotaan di berbagai daerah. Meskipun kualitas penerapannya berbeda-beda, arah kebijakannya mulai bergeser dari kendaraan yang mencari penumpang menjadi layanan yang tersedia untuk melayani penumpang.
Kebangkitan Angkutan Massal Berbasis Rel
Tanggal 24 Maret 2019 menjadi tonggak berikutnya ketika MRT Jakarta diresmikan. Peresmian tersebut dicatat oleh Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.
MRT membawa standar baru berupa waktu perjalanan yang lebih konsisten, stasiun yang tertata, informasi digital, pintu peron, fasilitas bagi penumpang berkebutuhan khusus, dan integrasi dengan kawasan di sekitar stasiun.
Selanjutnya, LRT Jabodebek mulai beroperasi pada 28 Agustus 2023. Pada tahun yang sama, Indonesia juga memasuki era kereta berkecepatan tinggi melalui Whoosh. Perkembangan LRT dan kereta cepat tersebut menjadi bagian dari transformasi transportasi yang dicatat oleh Kementerian Perhubungan.
KRL, MRT, LRT, dan kereta cepat memiliki fungsi yang berbeda. KRL membawa penumpang komuter dalam jumlah besar, MRT melayani koridor perkotaan berkapasitas tinggi, LRT menghubungkan pusat aktivitas di wilayah metropolitan, sedangkan kereta cepat melayani perjalanan antarkota.
Karena fungsinya berbeda, pembangunan moda baru seharusnya tidak dilakukan untuk saling bersaing. Setiap moda harus ditempatkan sebagai bagian dari satu jaringan perjalanan.
Transformasi Digital: Dari Karcis Kertas ke Perjalanan Terintegrasi
Perubahan angkutan umum saat ini juga berlangsung pada bagian yang tidak selalu terlihat, yaitu sistem pembayaran, informasi, dan pengendalian operasi.
Dahulu penumpang membayar dengan uang tunai dan memperoleh karcis kertas. Kini pembayaran dapat dilakukan menggunakan kartu elektronik atau aplikasi. Posisi kendaraan dapat dipantau, waktu kedatangan dapat diperkirakan, dan data perjalanan dapat digunakan untuk mengevaluasi kebutuhan layanan.
Perubahan digital memberikan sejumlah manfaat:
- transaksi lebih cepat dan dapat diaudit;
- jumlah penumpang lebih mudah dihitung;
- jadwal dan posisi kendaraan dapat dipantau;
- rute dapat dievaluasi berdasarkan permintaan;
- penumpang memperoleh informasi sebelum berangkat;
- serta integrasi tarif antarmoda menjadi lebih memungkinkan.
Namun, digitalisasi tidak boleh menimbulkan hambatan baru. Pembayaran tunai yang dihapus tanpa pilihan pendamping dapat menyulitkan masyarakat yang tidak memiliki rekening, telepon pintar, atau kemampuan menggunakan aplikasi.
Teknologi seharusnya memperluas akses, bukan memindahkan hambatan dari pintu kendaraan ke layar telepon.
Angkot Tidak Harus Hilang
Modernisasi transportasi sering dianggap identik dengan mengganti seluruh angkot menggunakan bus atau kereta. Padahal, kendaraan kecil masih memiliki peran penting sebagai pengumpan atau feeder, terutama di jalan lingkungan yang tidak dapat dilalui bus besar.
Pilihan yang lebih adil adalah mengintegrasikan angkot ke dalam sistem. Rutenya dapat disusun sebagai pengumpan stasiun, pengemudinya dibayar berdasarkan jam atau kilometer pelayanan, kendaraannya memenuhi standar keselamatan, dan tarifnya disatukan dengan moda utama.
Dengan pendekatan tersebut, perubahan transportasi tidak menghilangkan mata pencaharian secara mendadak. Pengemudi dan operator lama justru dapat menjadi bagian dari sistem yang lebih tertib dan memiliki kepastian pendapatan.
Kendaraan Listrik dan Tantangan Masa Depan
Bus listrik dan kereta bertenaga listrik menjadi simbol baru transportasi rendah emisi. Kendaraan ini dapat mengurangi emisi gas buang langsung dan kebisingan di jalan, terutama apabila digunakan untuk menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil yang beroperasi sepanjang hari.
Namun, elektrifikasi kendaraan bukan satu-satunya jawaban. Bus listrik yang terjebak kemacetan tetap memberikan pelayanan yang lambat. Kereta modern tanpa trotoar, angkutan pengumpan, dan integrasi tarif juga belum tentu mudah digunakan.
Masa depan angkutan umum Indonesia setidaknya bergantung pada enam unsur:
- Keandalan, yaitu kendaraan datang sesuai jadwal.
- Keterjangkauan, sehingga tarif tidak membebani masyarakat.
- Integrasi, meliputi rute, jadwal, tarif, dan informasi.
- Aksesibilitas, termasuk bagi lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
- Keselamatan, sejak penumpang berjalan menuju halte sampai tiba di tujuan.
- Keberlanjutan, melalui energi bersih dan penggunaan ruang kota yang efisien.
Perubahan Terbesar Bukan pada Kendaraannya
Jika diperhatikan, perubahan terpenting dalam sejarah angkutan umum Indonesia bukan sekadar peralihan dari delman ke bus atau dari bus ke kereta. Perubahan sesungguhnya terjadi pada cara pelayanan dirancang.
Pada masa lalu, penumpang menyesuaikan diri dengan kendaraan yang tersedia. Dalam sistem modern, kendaraan, jadwal, halte, trotoar, tarif, dan informasi seharusnya dirancang berdasarkan kebutuhan penumpang.
Kemajuan transportasi juga tidak cukup diukur dari kecepatan tertinggi. Ukuran keberhasilannya adalah berapa banyak masyarakat dapat mencapai sekolah, tempat kerja, pasar, rumah sakit, dan pusat pelayanan secara aman, terjangkau, serta tepat waktu.
Dari suara tapal kuda hingga kereta yang melaju ratusan kilometer per jam, angkutan umum telah menempuh perjalanan panjang. Bab berikutnya tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang semakin canggih, tetapi juga oleh keberanian menjadikan transportasi sebagai hak dasar masyarakat dan fondasi kota yang manusiawi.



