Modal Shift pada Gen Z: Bagaimana Generasi Digital Memilih Moda Transportasi?
Ketika biaya, waktu, kenyamanan, teknologi, dan gaya hidup menentukan cara Gen Z bergerak
Bayangkan seorang anak muda yang hendak pergi dari rumah menuju kampus atau tempat kerja di Jakarta.
Ia membuka aplikasi peta untuk mencari rute tercepat. Dari rumah, ia mungkin menggunakan ojek online menuju stasiun. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menggunakan KRL atau MRT, kemudian berjalan kaki atau kembali menggunakan transportasi online untuk mencapai tujuan akhir.
Di sisi lain, ada pilihan yang jauh lebih sederhana: mengambil kunci motor dan langsung berangkat.
Dua pilihan tersebut menggambarkan persoalan yang semakin penting dalam transportasi perkotaan: bagaimana seseorang memilih moda transportasi dan kapan ia bersedia berpindah dari satu moda ke moda lainnya?
Bagi Generasi Z atau Gen Z, pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik. Generasi yang tumbuh bersama internet, smartphone, aplikasi navigasi, ride-hailing, dan pembayaran digital ini sering dipandang sebagai generasi yang dekat dengan teknologi dan isu keberlanjutan. Namun, apakah karakter tersebut otomatis membuat mereka lebih memilih transportasi publik?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mobilitas Gen Z sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perkotaan, akses terhadap transportasi, waktu perjalanan, kenyamanan, keamanan, biaya, serta fleksibilitas. Dengan kata lain, keputusan perjalanan bukan hanya persoalan nilai atau gaya hidup, tetapi juga persoalan seberapa mudah pilihan tersebut dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami Modal Shift: Bukan Sekadar Pindah Kendaraan
Dalam kajian transportasi, modal shift secara sederhana dapat dipahami sebagai perpindahan penggunaan dari satu moda transportasi ke moda lainnya.
Contohnya adalah:
sepeda motor → KRL atau
mobil pribadi → MRT atau
kendaraan pribadi → kombinasi ojol + KRL + TransJakarta.
Contoh terakhir menunjukkan bahwa perubahan mobilitas tidak selalu berarti seseorang sepenuhnya meninggalkan kendaraan pribadi. Dalam sistem transportasi perkotaan yang semakin terintegrasi, seseorang dapat menggunakan beberapa moda dalam satu perjalanan.
Karena itu, pembahasan mengenai modal shift pada Gen Z sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Apakah Gen Z naik transportasi publik?”
Pertanyaan yang lebih relevan adalah:
“Mengapa Gen Z memilih moda tertentu, dan kondisi seperti apa yang dapat membuat mereka mengubah pilihan tersebut?”
Pertanyaan tersebut penting karena keputusan perjalanan terjadi dalam konteks yang berbeda-beda. Seseorang yang tinggal beberapa ratus meter dari stasiun tentu memiliki pilihan yang berbeda dibandingkan seseorang yang tinggal beberapa kilometer dari stasiun tanpa layanan pengumpan yang memadai.
Gen Z dan Mobilitas di Kota
Gen Z tumbuh pada masa ketika teknologi digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks mobilitas, teknologi tersebut terlihat melalui penggunaan aplikasi navigasi, layanan ride-hailing, pembayaran digital, serta informasi perjalanan secara real-time.
Penelitian mengenai mobilitas Gen Z di Indonesia memberikan gambaran menarik mengenai hubungan antara lingkungan perkotaan dan pola perjalanan. Studi yang menggunakan data Google Maps Timeline dari lebih dari 1.000 individu dan mengamati ratusan ribu perjalanan selama lebih dari 150 hari menemukan bahwa kepadatan dan keragaman penggunaan lahan berkaitan dengan pola perjalanan harian. Penelitian tersebut juga dilakukan dalam konteks kota Indonesia dengan dominasi kendaraan pribadi dan keterbatasan infrastruktur transportasi publik.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pilihan transportasi tidak hanya dibentuk oleh karakter individu.
Lingkungan tempat seseorang tinggal ikut menentukan pilihan yang tersedia.
Jika rumah, sekolah, tempat kerja, pusat perbelanjaan, dan fasilitas lainnya tersebar jauh satu sama lain, kendaraan pribadi menjadi lebih sulit digantikan. Sebaliknya, kawasan dengan penggunaan lahan yang lebih beragam dan lingkungan yang mendukung berjalan kaki dapat membuka lebih banyak pilihan perjalanan.
Dengan demikian, ketika membicarakan mobilitas Gen Z, kita tidak cukup hanya melihat “preferensi generasinya”. Kita juga harus melihat kota tempat mereka bergerak.
Apa yang Menentukan Pilihan Moda Gen Z?
Penelitian mengenai Gen Z di Jakarta maupun kawasan Jabodetabek memberikan gambaran mengenai berbagai faktor yang berhubungan dengan pilihan transportasi publik.
Salah satu penelitian terhadap Gen Z yang beraktivitas di Jakarta mengidentifikasi enam kelompok faktor utama dalam pemilihan transportasi umum, yaitu keselamatan, waktu tempuh, biaya, aksesibilitas, kenyamanan, dan keandalan.
Sementara itu, penelitian terhadap 114 pekerja Gen Z yang tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi serta bekerja di Jakarta menguji tiga faktor—biaya perjalanan, waktu perjalanan, dan aksesibilitas. Studi tersebut menemukan bahwa biaya perjalanan tidak berpengaruh signifikan dalam model penelitian mereka, sedangkan waktu perjalanan berpengaruh negatif dan signifikan serta aksesibilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap pilihan transportasi publik.
Jika berbagai penelitian tersebut dibaca secara bersama-sama, terdapat beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan.
Faktor yang Memengaruhi Modal Shift pada Gen Z
| Dimensi | Faktor | Makna dalam keputusan perjalanan |
|---|---|---|
| Ekonomi | Biaya | Apakah perjalanan terasa terjangkau dibandingkan alternatif lain? |
| Waktu | Waktu perjalanan | Apakah transportasi publik mampu memberikan waktu perjalanan yang kompetitif? |
| Spasial | Aksesibilitas | Seberapa mudah halte atau stasiun dicapai? |
| Layanan | Kenyamanan | Bagaimana pengalaman selama perjalanan? |
| Layanan | Keamanan | Apakah perjalanan dirasakan aman dari awal sampai akhir? |
| Layanan | Keandalan | Apakah jadwal dan waktu perjalanan dapat diprediksi? |
| Fleksibilitas | Kebebasan memilih rute/waktu | Seberapa mudah perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan? |
| Digital | Teknologi | Seberapa mudah informasi, navigasi, dan pembayaran diperoleh? |
| Integrasi | Konektivitas antarmoda | Seberapa mudah berpindah dari satu moda ke moda lainnya? |
| Lingkungan | Kesadaran ekologis | Apakah dampak lingkungan menjadi pertimbangan? |
Hal yang menarik dari tabel tersebut adalah bahwa tidak ada satu faktor yang dapat menjelaskan seluruh keputusan perjalanan.
Transportasi publik bisa lebih murah, tetapi jika membutuhkan waktu jauh lebih lama, sebagian pengguna mungkin tetap memilih kendaraan pribadi. Sebaliknya, transportasi publik yang cepat belum tentu dipilih jika stasiunnya sulit dicapai.
Karena itu, modal shift lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor.
Ketika Transportasi Publik Lebih Murah Belum Tentu Dipilih
Salah satu asumsi yang sering muncul adalah bahwa harga murah otomatis akan membuat masyarakat berpindah ke transportasi publik.
Namun penelitian terhadap pekerja Gen Z di kawasan penyangga Jakarta memberikan gambaran yang lebih kompleks. Dalam penelitian tersebut, biaya perjalanan tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pilihan transportasi publik, sedangkan waktu perjalanan dan aksesibilitas menunjukkan pengaruh yang signifikan.
Temuan ini tidak berarti biaya tidak penting.
Sebaliknya, temuan tersebut menunjukkan bahwa harga harus dilihat bersama faktor lainnya.
Bayangkan seseorang memiliki dua pilihan:
Pilihan ABiaya lebih murah, tetapi perjalanan membutuhkan waktu jauh lebih lama dan harus berpindah moda beberapa kali.
Pilihan BBiaya lebih mahal, tetapi dapat langsung berangkat dari rumah dan mencapai tujuan dengan lebih cepat.
Bagi sebagian pengguna, pilihan kedua dapat tetap dianggap lebih menarik.
Dengan demikian, modal shift bukan hanya persoalan:
“Mana yang lebih murah?”
tetapi juga:
“Mana yang memberikan nilai perjalanan paling sesuai dengan kebutuhan saya?”
Waktu Perjalanan: Faktor yang Sulit Diabaikan
Waktu merupakan sumber daya penting dalam mobilitas perkotaan.
Bagi Gen Z yang harus kuliah, bekerja, bertemu teman, atau melakukan berbagai aktivitas dalam satu hari, waktu perjalanan dapat menentukan moda yang dipilih.
Penelitian terhadap pekerja Gen Z di kawasan Jabodetabek menunjukkan bahwa semakin besar waktu perjalanan, semakin rendah kecenderungan memilih transportasi publik dalam model penelitian tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan dan efisiensi perjalanan merupakan bagian penting dari daya saing transportasi publik.
Transportasi publik tidak harus selalu mengalahkan kendaraan pribadi dalam setiap kondisi. Namun, semakin kompetitif waktu perjalanan yang ditawarkan, semakin besar peluangnya menjadi pilihan yang rasional.
First-Mile dan Last-Mile: Perjalanan Tidak Dimulai dari Stasiun
Ada satu persoalan yang sering luput ketika membahas transportasi publik: perjalanan seseorang tidak dimulai ketika ia memasuki stasiun.
Perjalanan dimulai dari rumah.
Misalnya:
Rumah → 2,5 km → Stasiun → KRL → Stasiun tujuan → Kantor
Pertanyaannya kemudian:
Bagaimana pengguna mencapai stasiun?
Jika harus berjalan terlalu jauh, tidak ada angkutan pengumpan, atau biaya ojol menjadi terlalu mahal, kendaraan pribadi dapat tetap menjadi pilihan.
Inilah yang dikenal sebagai persoalan first-mile dan last-mile connectivity.
Penelitian mengenai pekerja Gen Z di Jabodetabek juga menempatkan aksesibilitas sebagai faktor penting dalam pilihan transportasi publik dan merekomendasikan pengembangan solusi first-mile dan last-mile.
Artinya, membangun stasiun atau halte saja belum cukup.
Sistem transportasi harus mampu menjawab perjalanan:
rumah → halte/stasiun → moda utama → halte/stasiun → tujuan akhir.
Jika salah satu bagian rantai tersebut terlalu sulit, modal shift dapat terhambat.
Gen Z dan Paradoks Keberlanjutan
Gen Z sering dikaitkan dengan kepedulian terhadap isu lingkungan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepedulian tersebut tidak selalu otomatis berubah menjadi perilaku perjalanan yang berkelanjutan.
Penelitian Journal of Sustainable Tourism pada 2025 mengenai generasi muda menemukan adanya intention–behavior gap, yaitu kesenjangan antara niat untuk melakukan perjalanan berkelanjutan dan perilaku aktual. Studi tersebut mengidentifikasi beberapa hambatan, termasuk keterbatasan sumber daya, biaya, dan pengetahuan.
Penelitian lain pada 2025 juga menunjukkan bahwa faktor kontekstual seperti kepemilikan kendaraan dan jarak perjalanan dapat berperan dalam menjelaskan kesenjangan antara niat dan perilaku perjalanan hijau. Kenyamanan juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam analisis tersebut.
Dengan demikian, seseorang dapat saja memiliki sikap positif terhadap transportasi berkelanjutan, tetapi ketika menghadapi perjalanan sebenarnya, keputusan dapat berubah karena:
- waktu,
- biaya,
- jarak,
- kenyamanan,
- kepemilikan kendaraan,
- atau keterbatasan pilihan transportasi.
Di sinilah pentingnya membedakan apa yang ingin dilakukan seseorang dengan apa yang memungkinkan dilakukan oleh sistem transportasi.
Peduli Lingkungan Tidak Selalu Berarti Meninggalkan Motor
Fenomena tersebut dapat digambarkan secara sederhana.
Seorang Gen Z mungkin berpikir:
“Saya ingin mengurangi penggunaan kendaraan pribadi karena lebih ramah lingkungan.”
Namun pada hari kerja:
Rumah jauh dari stasiun.Bus pengumpan tidak tersedia.Perjalanan harus dilakukan pagi-pagi.Ada beberapa aktivitas setelah pulang kerja.Motor tersedia di rumah.
Dalam kondisi tersebut, motor dapat menjadi pilihan yang dianggap paling praktis.
Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah orang tersebut peduli lingkungan atau tidak.
Persoalannya adalah:
Apakah sistem transportasi memberikan alternatif berkelanjutan yang cukup mudah, cepat, aman, nyaman, dan terjangkau?
Ini merupakan salah satu pelajaran penting dari literatur mengenai intention–behavior gap.
Teknologi: Ketika Smartphone Menjadi Bagian dari Perjalanan
Bagi Gen Z, teknologi bukan sekadar alat tambahan dalam perjalanan.
Teknologi dapat menjadi bagian dari proses perjalanan itu sendiri.
Perjalanan dapat dimulai dengan:
mencari lokasi → memilih rute → membandingkan moda → melihat estimasi waktu → memesan perjalanan pengumpan → membayar → memantau perjalanan.
Aplikasi navigasi dan ride-hailing memungkinkan pengguna menggabungkan berbagai moda dengan lebih mudah.
Dalam penelitian tentang mobilitas Gen Z di Indonesia, penggunaan teknologi seperti Google Maps dan layanan ride-hailing juga menjadi bagian dari konteks mobilitas generasi tersebut.
Hal ini membuka pembahasan yang lebih luas mengenai Mobility as a Service (MaaS), yaitu gagasan bahwa berbagai layanan mobilitas dapat diintegrasikan sehingga pengguna tidak lagi melihat setiap moda sebagai layanan yang berdiri sendiri.
Dari perspektif pengguna, yang penting bukan apakah perjalanan menggunakan KRL, MRT, ojol, bus, atau berjalan kaki.
Yang lebih penting adalah:
Apakah seluruh rangkaian perjalanan dapat dilakukan dengan mudah?
Dari “Moda” Menuju “Ekosistem Mobilitas”
Inilah perubahan cara berpikir yang penting.
Pendekatan lama cenderung bertanya:
“Apakah masyarakat memilih motor atau transportasi publik?”
Sementara pendekatan yang lebih sesuai dengan mobilitas perkotaan saat ini dapat bertanya:
“Bagaimana seseorang melakukan perjalanan dari pintu rumah sampai tujuan?”
Contohnya:
Rumah↓Ojol↓KRL↓MRT↓Jalan kaki↓Kantor
Dalam perjalanan tersebut, pengguna sebenarnya tidak memilih satu moda.
Ia memilih rantai perjalanan.
Bagi Gen Z yang terbiasa menggunakan aplikasi digital, konsep ini menjadi semakin relevan karena informasi perjalanan dapat diperoleh dalam satu perangkat.
Apakah Transportasi Publik Sudah “Gen-Z Friendly”?
Pertanyaan tersebut tidak harus dijawab dengan “ya” atau “tidak”.
Lebih tepat jika transportasi publik dilihat berdasarkan kebutuhan perjalanan.
1. Aksesibilitas
Apakah halte atau stasiun mudah dicapai?
2. Waktu
Apakah waktu perjalanan kompetitif?
3. Biaya
Apakah total biaya perjalanan masuk akal?
4. Kenyamanan
Apakah perjalanan memberikan pengalaman yang layak?
5. Keamanan
Apakah pengguna merasa aman sepanjang perjalanan?
6. Keandalan
Apakah pengguna dapat memperkirakan kapan akan tiba?
7. Integrasi
Apakah perpindahan antarmoda mudah?
8. Digitalisasi
Apakah informasi perjalanan mudah ditemukan dan dipahami?
9. First-mile dan last-mile
Apakah perjalanan dari dan menuju rumah atau tujuan akhir juga terlayani?
Jika semua aspek tersebut semakin baik, maka transportasi publik memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pilihan yang kompetitif.
Bagaimana dengan Indonesia?
Konteks Indonesia memiliki tantangan tersendiri.
Penelitian mengenai mobilitas Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa pola perjalanan masih berlangsung dalam konteks dominasi kendaraan pribadi dan keterbatasan transportasi publik, sementara karakteristik tata guna lahan juga berkaitan dengan pola perjalanan.
Pada skala Jakarta dan Jabodetabek, penelitian mengenai Gen Z menunjukkan pentingnya waktu perjalanan, aksesibilitas, keselamatan, kenyamanan, keandalan, dan biaya dalam memahami pilihan transportasi.
Sementara itu, penelitian terbaru pada 2026 yang melibatkan 400 responden Gen Z berusia 19 tahun ke atas di Jakarta secara khusus mengkaji niat Gen Z menggunakan transportasi publik yang ramah lingkungan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa isu kesadaran terhadap atribut hijau, proses operasional, promosi hijau, keberlanjutan, dan niat menggunakan transportasi publik menjadi bagian penting dalam memahami perilaku Gen Z.
Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai Gen Z tidak bisa dilepaskan dari dua sisi:
preferensi pengguna dan kondisi sistem transportasi.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Gen Z?
Jika berbagai penelitian tersebut disintesiskan, ada satu hal yang cukup jelas:
Gen Z tidak membutuhkan transportasi yang sekadar “modern”.
Mereka membutuhkan transportasi yang bekerja dalam kehidupan nyata.
Transportasi publik yang baik bukan hanya memiliki kendaraan baru atau stasiun yang modern.
Ia harus mampu menjawab kebutuhan perjalanan secara menyeluruh.
Dari rumah:
Mudah mencapai halte/stasiun
↓
Dalam perjalanan:
Cepat, aman, nyaman, dan dapat diprediksi
↓
Saat berpindah moda:
Mudah dan tidak membingungkan
↓
Saat membayar:
Sederhana dan terintegrasi
↓
Sampai tujuan:
Tidak menyulitkan pengguna untuk menyelesaikan perjalanan
Jika rangkaian tersebut dapat diwujudkan, maka transportasi publik tidak lagi hanya menjadi pilihan “karena tidak punya kendaraan”.
Ia dapat menjadi pilihan yang memang masuk akal.
Mendorong Modal Shift: Bukan Hanya Mengubah Mindset
Dari berbagai penelitian tersebut, satu pelajaran penting dapat ditarik:
Mendorong modal shift tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat mengubah perilaku. Sistem transportasinya juga harus berubah.
Jika ingin lebih banyak Gen Z menggunakan transportasi publik, beberapa hal dapat menjadi perhatian.
Pertama, meningkatkan aksesibilitas
Transportasi publik harus semakin mudah dicapai dari kawasan permukiman, pendidikan, dan pekerjaan.
Kedua, memperkuat first-mile dan last-mile
Perjalanan menuju dan dari stasiun harus menjadi bagian dari perencanaan sistem transportasi, bukan dianggap sebagai persoalan pengguna semata.
Ketiga, memperpendek waktu perjalanan
Transportasi publik perlu memberikan waktu perjalanan yang kompetitif dan dapat diprediksi.
Keempat, meningkatkan kenyamanan dan keamanan
Pengalaman pengguna sangat menentukan apakah seseorang ingin menggunakan suatu moda kembali.
Kelima, memperkuat integrasi antarmoda
Perjalanan menggunakan beberapa moda harus terasa sebagai satu perjalanan, bukan kumpulan layanan yang terpisah.
Keenam, memanfaatkan teknologi
Informasi rute, jadwal, tarif, pembayaran, dan kondisi perjalanan harus mudah diakses melalui platform digital.
Ketujuh, mempertahankan keterjangkauan
Harga tetap penting, tetapi perlu dipahami bersama kualitas layanan, waktu, dan aksesibilitas.
Penutup: Gen Z dan Masa Depan Mobilitas Kota
Gen Z sering disebut sebagai generasi digital dan generasi yang lebih dekat dengan isu keberlanjutan.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara nilai, niat, dan perilaku perjalanan jauh lebih kompleks.
Gen Z dapat memiliki kepedulian terhadap lingkungan, tetapi tetap menggunakan kendaraan pribadi ketika transportasi publik dianggap terlalu lama, sulit diakses, kurang nyaman, atau tidak memberikan fleksibilitas yang dibutuhkan.
Karena itu, modal shift pada Gen Z tidak seharusnya hanya dipahami sebagai upaya memindahkan pengguna dari sepeda motor atau mobil ke bus dan kereta.
Lebih dari itu, modal shift merupakan persoalan tentang bagaimana seseorang memilih dan menjalani seluruh perjalanan dari titik awal hingga tujuan akhir.
Dalam konteks ini, teknologi dapat menjadi penghubung antara berbagai moda. Tata guna lahan dapat menentukan seberapa mudah seseorang mengakses transportasi. Sementara kualitas layanan menentukan apakah pengguna akan kembali menggunakan moda tersebut.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Apakah Gen Z mau meninggalkan kendaraan pribadi?”
Melainkan:
“Apakah sistem transportasi sudah memberikan alasan yang cukup kuat bagi Gen Z untuk memilih alternatif selain kendaraan pribadi?”
Jika jawabannya semakin mendekati “ya”, maka modal shift tidak perlu dipaksakan sebagai sebuah kewajiban.
Ia dapat terjadi karena pilihan yang lebih berkelanjutan juga menjadi pilihan yang paling masuk akal untuk kehidupan sehari-hari.



