DPRD DKI: Mikrotrans Diperbanyak. Jangan Sampai Jadi Masalah Baru.
UGCTransportasi

DPRD DKI: Mikrotrans Diperbanyak. Jangan Sampai Jadi Masalah Baru.

A
Ditulis oleh amisyr
22 September 20262 dibaca

Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin mendorong agar Mikrotrans diperbanyak dan menjangkau kawasan kecil hingga perkampungan. Menurutnya, Mikrotrans penting sebagai penghubung dari permukiman menuju moda utama seperti LRT, TransJakarta dan KRL. 

Dari tarif sampai konektivitas

Isu Mikrotrans sebenarnya sudah bergulir sejak pertengahan tahun.

Pada 3 Juli 2026, Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengusulkan tarif Mikrotrans Rp2.000 untuk perjalanan yang hanya menggunakan Mikrotrans. Alasannya antara lain untuk membuat pendataan penumpang lebih akurat. Usulan ini kemudian masuk pembahasan Pemprov dan DPRD. 

Pada 2 Juli, Pemprov DKI juga menggelar public hearing mengenai penyempurnaan integrasi tarif angkutan umum. 

Lalu pada Agustus, muncul persoalan lain: tumpang tindih rute antara Mikrolet M44 dan Mikrotrans 48A di kawasan Tebet. Dishub DKI kemudian menyiapkan evaluasi rute. Kasus ini menunjukkan bahwa menambah layanan feeder tidak cukup hanya dengan menambah armada; jaringan yang sudah ada juga harus ditata. 

Setelah LRT Kelapa Gading–Manggarai diresmikan 16 September, DPRD kembali mendorong penguatan Mikrotrans sebagai feeder.

Pada 21 September, anggota Komisi B DPRD DKI Wa Ode Herlina juga menekankan pentingnya koneksi LRT dengan TransJakarta, Mikrotrans dan KRL, termasuk pengembangan Park and Ride di Manggarai. 

Jadi, bukan sekadar “tambah Mikrotrans”

Mikrotrans memang penting untuk first mile–last mile. Tapi penambahan rute harus dihitung berdasarkan kebutuhan perjalanan dan kondisi jaringan.

Jangan sampai:

rute bertambah → kendaraan bertambah → rute tumpang tindih → jalan makin padat.

Yang perlu diperbaiki justru satu paket:

  • Perluasan rute ke kawasan yang memang belum terlayani.
  • Evaluasi rute lama agar tidak saling tumpang tindih.
  • Koneksi langsung ke stasiun dan halte utama.
  • Penataan titik naik-turun agar tidak mengganggu lalu lintas.
  • Sinkronisasi jadwal dengan LRT, KRL dan TransJakarta.
  • Tarif yang tetap terjangkau agar integrasi tidak malah membuat orang kembali memilih kendaraan pribadi.
  • Penggunaan data penumpang untuk menentukan rute dan jumlah armada, bukan sekadar berdasarkan banyaknya permintaan rute.

Sebab ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak Mikrotrans yang beroperasi, tetapi apakah perjalanan masyarakat menjadi lebih mudah, waktu tunggu berkurang, koneksi antarmoda semakin lancar, dan semakin banyak orang bisa meninggalkan kendaraan pribadi.

Ujungnya tetap satu: transportasi yang terasa nyambung dari rumah

Jakarta sebenarnya sudah punya banyak moda: KRL, MRT, LRT, TransJakarta dan Mikrotrans.

Pekerjaan berikutnya adalah membuat semuanya terasa seperti satu sistem.

Idealnya perjalanan warga sesederhana:

Rumah → Mikrotrans → LRT/KRL/TransJakarta → tujuan.

Jadi, ketika DPRD mendorong Mikrotrans diperbanyak, yang perlu diperbanyak bukan sekadar jumlah mobilnya, tetapi kualitas koneksinya.

Karena transportasi publik yang baik bukan yang paling banyak modanya, melainkan yang membuat warga berpikir:

“Dari rumah sampai tujuan ternyata bisa naik umum dan nggak ribet.”

#perkotaan#angkutanumum#TransportasiPublik#TransportasiIndonesia#jakarta#nyamanberkendara#konektivitas#interkoneksi#antarmoda
A

amisyr

UGC Contributor

Kontributor User Generated Content (UGC) Katalia Global Consult

Gabung Jadi Penulis
Bagikan