Stasiun Karet Beralih Fungsi, Apa Dampak Positifnya bagi Pengguna KRL?
Bagi sebagian pengguna KRL, Stasiun Karet mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Turun kereta, berjalan menuju Jalan Sudirman, kemudian melanjutkan aktivitas ke kantor, kampus, pusat bisnis, atau tempat lainnya.
Karena itu, ketika muncul rencana penyesuaian layanan Stasiun Karet dan integrasinya dengan Stasiun BNI City, wajar jika pertanyaan pertama yang muncul adalah:
“Kalau Stasiun Karet tidak lagi digunakan seperti sebelumnya, bukankah perjalanan justru menjadi lebih jauh?”
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Konsep yang sedang disiapkan bukan sekadar menutup sebuah stasiun, tetapi mengalihkan dan mengintegrasikan layanan ke Stasiun BNI City sekaligus menata kawasan di sekitarnya. Penyesuaian terhadap pelayanan Stasiun Karet dan Stasiun BNI City harus disertai sejumlah langkah, mulai dari peningkatan pelayanan penumpang, penambahan petugas keamanan dan passenger service, hingga penataan akses pejalan kaki.
Artinya, perubahan ini perlu dilihat sebagai bagian dari penataan ekosistem transportasi, bukan hanya perubahan lokasi naik-turun penumpang.
1. Dari stasiun tunggal menuju kawasan transportasi yang terintegrasi
Salah satu persoalan transportasi perkotaan adalah ketika berbagai moda transportasi sebenarnya sudah tersedia, tetapi koneksi antarmodanya belum terasa mulus.
Di kawasan Dukuh Atas, kondisinya berbeda.
Stasiun BNI City berada dalam kawasan yang dikembangkan sebagai bagian dari integrasi berbagai moda, bersama Stasiun Sudirman, JPM Dukuh Atas, dan Stasiun LRT Dukuh Atas. Yang diproyeksikan akan berkembang menjadi kawasan integrasi moda.
Dengan kata lain, perpindahan layanan dari Karet menuju BNI City dapat dipahami sebagai upaya untuk mendekatkan perjalanan KRL dengan ekosistem transportasi yang lebih besar.
Bagi masyarakat yang setiap hari berpindah moda, hal seperti ini cukup penting.
Karena transportasi publik yang baik bukan hanya soal seberapa cepat kereta bergerak, tetapi juga seberapa mudah seseorang berpindah dari satu moda ke moda lainnya.
2. Jarak tambahan tidak selalu berarti perjalanan lebih sulit
Ini mungkin menjadi salah satu kekhawatiran terbesar pengguna Stasiun Karet.
Ketika akses dari kawasan Jalan KH Mas Mansyur menuju Stasiun BNI City kita asumsikan berdasarkan kecepatan rata rata berjalan orang di Jakarta, maka estimasi waktunya sekitar:
- ±372 meter atau 7–8 menit untuk penumpang menuju peron arah Manggarai.
- ±455 meter atau 8–9 menit untuk penumpang menuju peron arah Tanah Abang.
Artinya, perpindahan tersebut memang membutuhkan tambahan perjalanan dengan berjalan kaki. Tetapi tambahan jarak tersebut direncanakan bersamaan dengan penataan jalur pedestrian, kanopi, ramp, dan akses pejalan kaki.
Dalam konsep penataan Stasiun Karet, salah satu pekerjaan yang direncanakan adalah pelebaran pedestrian dengan memanfaatkan lahan yang tersedia, penambahan kanopi, pembukaan akses pejalan kaki, pembangunan ramp, serta perpanjangan kanopi dan selasar.
Jadi pertanyaannya bukan hanya:
“Apakah harus berjalan lebih jauh?”
Tetapi juga:
“Apakah perjalanan berjalan kaki tersebut dibuat lebih aman, nyaman, dan mudah?”
Dan di sinilah penataan kawasan menjadi penting.
3. Pejalan kaki mendapatkan ruang yang lebih baik
Salah satu hal menarik dari konsep ini justru berada di luar bangunan stasiun.
Rencana penataan mencakup pemanfaatan ruang terbuka hijau sepanjang jalan inspeksi sebagai area pedestrian. Selain itu, terdapat wacana terhadap pembangunan JPO dari gate baru BNI City menuju Jalan RM Margono serta penataan kawasan integrasi transportasi di Jalan Mas Mansyur.
Dalam konteks kota seperti Jakarta sekarang, tambahan ruang pedestrian bukan lagi sekadar masalah estetika, tetapi juga bagian dari perubahan budaya serta gaya hidup masyarakatnya.
Bagi pengguna transportasi publik, trotoar, jalur pedestrian, kanopi, ramp, dan koneksi antargate adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.
Perjalanan seseorang sebenarnya dimulai sejak keluar dari kereta sampai tiba di tujuan.
Karena itu, pengalaman berjalan kaki yang lebih tertata bisa menjadi salah satu manfaat penting dari perubahan ini.
4. Aspek keselamatan menjadi bagian dari desain
Perubahan fungsi stasiun tentu tidak cukup hanya dengan memindahkan akses penumpang.
Ada aspek keselamatan yang harus dipastikan.
Dalam konsep penataan tahap berikutnya, misalnya, direncanakan pembangunan pagar pembatas antara peron 1 eksisting Stasiun Karet dengan jalur KA. Selain itu, terdapat rencana pemasangan travolator dari ujung peron menuju area parkir sisi barat Stasiun BNI City pada tahap ultimate.
Ditjen Perkeretaapian juga menekankan beberapa hal selama masa penataan, termasuk pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM), sosialisasi kepada masyarakat, serta peningkatan jumlah petugas keamanan dan petugas pelayanan penumpang.
Ini penting karena perubahan pola perjalanan biasanya membutuhkan masa adaptasi.
Semakin jelas petunjuk arah, semakin baik pengamanan, dan semakin banyak petugas yang membantu, semakin kecil kemungkinan penumpang kebingungan ketika pola perjalanan berubah.
5. Stasiun BNI City bisa dimanfaatkan secara lebih optimal
Ada satu keuntungan lain yang sering luput dari pembahasan: pemanfaatan infrastruktur yang sudah tersedia.
Alih-alih mempertahankan dua titik layanan yang sangat berdekatan dengan fungsi yang tumpang tindih, integrasi dapat diarahkan agar fasilitas BNI City digunakan secara lebih optimal.
Konsep flow penumpang di BNI City bahkan sudah memperhitungkan pola pergerakan penumpang menuju Manggarai maupun Tanah Abang, termasuk pengaturan sirkulasi di lantai dasar dan lantai pertama.
Dengan demikian, perubahan ini tidak berhenti pada “penumpang Stasiun Karet dipindahkan ke BNI City”.
Ada pekerjaan yang lebih besar di belakangnya: bagaimana fasilitas, akses, sirkulasi, pedestrian, dan kawasan di sekitar stasiun dapat bekerja sebagai satu kesatuan.
6. Dampaknya bisa terasa sampai ke kawasan sekitar
Penataan Stasiun Karet juga tidak berdiri sendiri.
Dalam konsep pengembangan kawasan, terdapat rencana penataan kawasan integrasi transportasi di Jalan Mas Mansyur untuk angkutan perkotaan/BRT dan pembangunan laybay. Ruang terbuka hijau juga direncanakan dimanfaatkan sebagai area pedestrian.
Artinya, perubahan layanan kereta dapat menjadi pemicu untuk memperbaiki kawasan di sekitar stasiun, bukan hanya bangunan stasiunnya.
Hal ini sejalan dengan konsep kawasan berorientasi transit yang juga diterapkan dalam pengembangan Stasiun Tanah Abang Baru. Stasiun tersebut disebut sebagai salah satu pusat mobilitas masyarakat dengan intensitas tinggi sehingga dikembangkan dengan konsep kawasan berorientasi transit.
Jadi, ukuran keberhasilan sebuah stasiun modern tidak hanya dilihat dari bangunannya.
Yang lebih penting adalah bagaimana stasiun tersebut terhubung dengan lingkungan dan moda transportasi di sekitarnya.
Lalu, apakah perubahan ini otomatis membuat perjalanan menjadi lebih baik?
Belum tentu langsung terasa.
Ini adalah poin yang penting.
Setiap perubahan sistem transportasi pasti membutuhkan masa transisi. Penumpang perlu mengenali jalur baru, memahami akses keluar-masuk, mengetahui arah perjalanan, dan menyesuaikan kebiasaan yang selama ini sudah terbentuk.
Karena itu, keberadaan sosialisasi, petugas pelayanan, petunjuk arah, serta evaluasi setelah uji coba menjadi sangat penting.
Kemudian dapat terlihat juga setelah uji coba pada 1 September 2026, telah dilakukan pemantauan terhadap kondisi akses dan pergerakan penumpang di kawasan BNI City dan jalur menuju kawasan tersebut menunjukkan aktivitas penumpang berjalan melalui jalur pedestrian menuju BNI City, dengan dukungan petugas di lapangan.
Jadi, perubahan tersebut alangkah baiknya tidak dinilai hanya dari hari pertama, sama halnya seperti kita menilai dalam mencari pasangan hidup kan? Hehehe.
Yang lebih penting adalah bagaimana sistem tersebut berkembang setelah masyarakat mulai terbiasa menggunakannya.
Bukan Sekadar Menutup Stasiun
Pada akhirnya, membicarakan perubahan fungsi Stasiun Karet tidak cukup hanya dengan kalimat:
“Stasiun Karet ditutup.”
Kalimat tersebut memang menggambarkan perubahan yang dirasakan langsung oleh pengguna, tetapi belum menggambarkan keseluruhan proses yang sedang dilakukan.
Ada integrasi dengan BNI City. Ada penataan pedestrian. Ada peningkatan aspek keselamatan. Ada penambahan dukungan petugas. Ada pengembangan kawasan Dukuh Atas. Ada konektivitas dengan moda transportasi lainnya.
Dan yang paling penting, ada upaya untuk mengubah cara kita memandang stasiun hanya secara konvensional.
Stasiun bukan hanya tempat naik dan turun kereta. Stasiun adalah bagian dari perjalanan dan bagian dari sebuah kawasan kota.
Kalau penataan ini berhasil diwujudkan sesuai konsepnya, maka manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh penumpang KRL yang sebelumnya menggunakan Stasiun Karet, tetapi juga oleh masyarakat yang berjalan kaki, pengguna moda lain, pekerja di sekitar kawasan Sudirman–Dukuh Atas, hingga aktivitas perkotaan di sekitarnya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilannya sederhana:
apakah perjalanan masyarakat menjadi lebih terhubung, lebih aman, dan lebih mudah?
Itulah yang nantinya perlu dibuktikan melalui pengalaman pengguna setelah integrasi berjalan secara penuh.



